Geger! Kasus Razia Rambut Siswi di SMKN 2 Garut, Begini Nasib Oknum Guru BK Setelah Dipanggil Dedi Mulyadi!

AKURAT BANTEN – Jagat media sosial kembali dihebohkan dengan sebuah video viral yang memperlihatkan aksi razia rambut di SMKN 2 Garut.
Namun, kali ini bukan siswa laki-laki yang menjadi sasaran, melainkan seorang siswi perempuan.
Aksi oknum Guru BK yang memotong paksa rambut siswi tersebut memicu kemarahan publik dan kini memasuki babak baru setelah tokoh publik Jawa Barat, Dedi Mulyadi, turun tangan.
Apa sebenarnya yang terjadi? Dan bagaimana nasib sang guru setelah tindakan tersebut menjadi sorotan nasional?
Aksi Razia yang Berujung Kecaman
Kejadian bermula saat video singkat beredar luas memperlihatkan seorang siswi yang hanya bisa terdiam saat rambutnya dipotong asal-asalan oleh pihak sekolah dengan alasan kedisiplinan.
Netizen menilai tindakan tersebut sangat tidak manusiawi, mengingat rambut bagi seorang perempuan adalah aspek identitas dan kepercayaan diri.
Mendengar kegaduhan ini, Kang Dedi Mulyadi segera bergerak cepat.
Beliau memanggil oknum guru serta pihak sekolah untuk mendengar langsung alasan di balik tindakan represif tersebut.
Baca Juga: Bikin Merinding! Bukan Soal Kemewahan, Inilah Alasan Tersembunyi Ruben Onsu Bangun Masjid Megah
Sentilan Tajam Dedi Mulyadi
Dalam pertemuan tersebut, suasana sempat menegang saat Dedi Mulyadi melontarkan pandangan kritisnya mengenai metode pendidikan karakter di sekolah.
Beliau menekankan bahwa disiplin tidak harus dilakukan dengan cara-cara yang meruntuhkan mental siswa.
Sekolah itu tempat untuk menanamkan nilai-nilai keindahan dan etika, bukan tempat eksekusi yang meninggalkan luka batin. Ingat, rambut adalah mahkota bagi seorang wanita. Jika kita menghancurkan kepercayaan diri mereka atas nama disiplin, maka sebenarnya kita sedang gagal mendidik jiwa mereka. — Dedi Mulyadi
Nasib Oknum Guru BK: Evaluasi dan Permohonan Maaf
Lantas, bagaimana nasib sang guru? Setelah dipanggil dan diajak berdiskusi oleh Dedi Mulyadi, terungkap bahwa tindakan tersebut menjadi bahan evaluasi besar di internal sekolah.
Oknum guru tersebut menyadari kekhilafannya dan menyatakan permohonan maaf atas tindakan yang dinilai terlalu berlebihan.
Dedi Mulyadi menegaskan bahwa sekolah harus kembali ke fungsinya yang humanis.
Beliau meminta agar kejadian ini menjadi yang terakhir dan sekolah-sekolah lain tidak lagi menerapkan sanksi fisik yang mempermalukan siswa di depan umum. (**)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Terungkap Gugatan Surat Kesetaraan Pendidikan Gibran Ternyata Berawal dari Keluhan Calon Murid
- 2Hakim Saldi Isra Cecar Bawaslu soal Syarat Pendidikan Gibran, 'Dipantau Enggak?'
- 3Mahfud MD Bongkar Sorotan ke Prabowo, 'Sekarang Saya Percaya Dia Tidak Berdaulat'
- 4Surat Kesetaraan Gibran Digugat, Muncul Tawaran Tak Terduga, Ikut Paket C?
- 5Denny Indrayana Bongkar Suket Gibran, 'Diajukan dan Terbit di Hari yang Sama, Kok Bisa?'
- 6Makin Panas! Ijazah Gibran Masuk MK, Bisakah Berujung pada Pemakzulan Wakil Presiden?
- 7Gibran Digadang Capres 2029, Pernyataan Ali Syarief soal Prabowo Bikin Wacana Makin Panas
- 8Pendidikan Gibran Jadi Sorotan, Agus Yunanto Bongkar Pertanyaan Besar soal SMK Akuntansi
- 98 Tuntutan Gugatan Gibran di MK Terungkap, Ada Permintaan Batalkan Pelantikan dan Pilih Wapres Baru
- 10Roy Suryo Soroti Biografi Gibran di MK, Ada Perbedaan Keterangan Pendidikan yang Dipersoalkan







